Kamis, 03 Juli 2008
PATIH DAN PUTERI
Puteri Kerajaan "Negeri di Balik Awan"
Maka Patih berangkat dengan langkah keoptimisan
dengan sejata gala bermata runcing di ujungnya
tanpa kuda gagah nan perkasa
Sebab Patih tidak mau memanfaatkan fasilitas kerajaan
sebab Patih bersemboyan :
"Apa yang dapat Patih sumbangkan buat kerajaan,
bukan Patih mengambil keuntungan dari kerajaan"
Bang...ibing, bang... ibing, bang... ibing... ibing...
Berlari kencang sang Patih melalui hutan, padang, dan lautan
Bang...ibing, bang... ibing, bang... ibing... ibing...
Terbang tinggi sang Patih melewati angin, embun, dan awan
Sampailah sang Patih di Kerajaan Negeri di Balik Awan
Sang Puteri terpejam dalam sakit
Sang Patih melewati banyak rintangan
Tetapi sang Patih mengalir saja
Bertemu pohon maka dilabraknya
Tertumbuk tembok maka meresap
Tertumbur batu maka didorongnya
Bersimpang jalan maka ke kananlah
Menanjak atau menurun tetap bertahan
Bang...ibing, bang... ibing, bang... ibing... ibing...
Berlari kencang sang Patih melalui hutan, padang, dan lautan
Bang...ibing, bang... ibing, bang... ibing... ibing...
Terbang tinggi sang Patih melewati angin, embun, dan awan
Sang Patih mulus dan rela
Mata sang Puteri terjaga
Sang Patih tulus menjaga
Hati sang Puteri terbuka
Sang Puteri berterima kasih
Sang Patih pun kembali
Sang Puteri memberi hati yang bersih
Sang Puteri 'kan menunggu sang Patih 'tuk kembali
Sabtu, 28 Juni 2008
SAJAK DI KELUASAN MALAM
Suasana malam : Rembulan telah menghalau kegelapan
lembut tembang manis telah mengusir kesunyian
Sementara fantasme beterbangan mewarnai bianglala senja
: Gerak-gerik mulut nan lucu itu
Kadangkala manyun seperti ikan mas
terkadang pula dengan suara yang cantik dan halus
seperti irama musik
Dan, tiba-tiba saja kita telah berada
di tengah-tengah taman kesukaan - di sana!
Tempat saksikan kupu-kupu menyalami putiksari
atau mengejar belalang serta menyapa beburungan
dengan keriangan seorang puteri kecil di Eropa
pada abad-abad lampau - membuat iri hati peri-peri!
Tempat memainkan air kolam berteteratai di situ
atau duduk di bawah pohon rindang yang sejuk
dan tertidur dibuai Driopa setelah penat bercerita
: Tentang suka, tentang gurauan kita
hingga tentang perang di mana-mana
Adalah asosiasi-asosiasi yang mendenyar-denyar lepas
pada sebuah cakrawala yang menjajarkan warna-warna semarak
alam menawarkan peta-peta frekuensi gelombang pesona
pada sebuah perasaan yang menjalari aliran darah
kemudian menggelinjang ke pusat hati
Menafsirkan...
Dan yang kugenggam ini memang dirimu, Dik?
Tidak, Sayang!
Itu merupakan permulaan yang berbahaya
karena akan menimbulkan gagasan-gagasan lebih lanjut
dan dalam kondisi inilah krisis banyak terjadi
Ini harus distop! Dijeda jilidnya
Itu merupakan perasaan yang picik
karena kita akan selalu melihat langit
tanpa langit itu dapat terjamah jari-jemari kita
karena panas matahari
tanpa panas itu dapat merasakan dari apa yang kita rasakan
Itulah susahnya, menghitung lama kita memang gampang
Iya, sebab jangka waktu mesti punya akhir
Coba menghitung perasaan
bagai menyelami isi lautan
bahkan timbul pertanyaan : "Sampai kapan semua ini?"
Maka waktu jua yang akan menguji keberadaannya
Kumasuki malam : Gadis yang berada di hadapan
Adalah dengan kesungguhan seorang wanita
: Cantik, cerdas dan manja
Aku seperti Adam sadar akan keberadaan Hawa
- aku tercenung
Laksana kertas, waktu dan malam
banyak yang serba mungkin baginya di kemudian hari
tiada kata final untuk realitas yang terus berkembang
Dan, engkan adalah masa depan bagiku
Sedangkan akau dapat saja menjadi masa lalumu
Sebab kertas malammu hanya kamu
yang dapat menulis, menekuk atau melipatnya
Sebab kita tidak anti perbedaan pendapat
Dan pintu perbaikan - waktu yang tidak akan mundur itu -
ada di hadapanmu
Dengan kunci realitas yang beraneka ragam, bercorak
dan bernuansa di genggamanmu
Engkau dapat berkembang dan mengembangkan
kepak-kepak sayapmu menjelajah di keluasan malam
Sebab kondisi persamaan tidak hanya diciptakan
dalam pengertian formal
tetapi persamaan yang terjadi secara aktual
kita dapat saling melengkapai secara kodrati
sehingga kita dapat rembukan - di sana!
Tidak peduli meski akan lebih banyak pembicaraan
perihal mimpi-mimpi semata
Menafsirkan...
Dan yang kugenggam ini mungkin dirimu, Dik?
Seperti biasa dengan lamur kuserahkan kegelisahanku
Diriku bagai baris-baris sajak yang tak terselesaikan
: Pada sebuah kertas yang ditulis, disetip,
lalu ditulis lagi tidak lengkap
- merupakan untaian kalimat-kalimat yang berserakan
pada sebuah suara yang tak terterbebaskan
- adalah pikiran-pikiran berleluasa menghentak-hentak
Garis imajiner antara tepi malam dan sang fajar
antara cahaya malam dan malam itu sendiri
Sementara rona lembut sang fajar mesti diraih
melalui perjalanan suatu malam dengan keluasannya
Kadangkala tak menentu
terkadang pula sulit untuk diramalkan
Menafsirkan...
Dan yang kugenggam ini mungkin diriku, Dik?
Aku mesti engkau kenal seperti keadaanku sebenarnya saja
Sungguh! Tidak lebih dan tiada pula kurang
Dan, lihatlah dalam perspektif yang berbeda
- sebab penyakit yang berbahaya adalah yang tersebunyi
Sehingga dapat saling dorong, saling memberi pupuk
dan saling memelihara
seperti bukit menemukan puncaknya
seperti ombak yang memecah buih di pantai
merupakan dua anasir yang mengandung tekad nan luhur
sehingga, "Benamkan aku pada pusat hatimu!"
Jumat, 27 Juni 2008
LIMA LEMBAR SURAT CINTA TERTINGGAL DI SAKU CELANA...
Sayang, sebenarnya kita tak ingin menulis surat ini, apalagi hari ini Senin, 24 Juni adalah hari yang memang pantas ditandai dengan sesuatu yang berkesan. Kita lebih suka sampaikan langsung kepadamu, ya... mungkin melalui toa di surau di sebelah rumahmu, atau memakai mikrofon di stasiun kereta api. Tetapi setelah kita pikir-pikir... pasti kita akan dimarahi oleh Ustadz yang selalu adzan di surau itu, atau boleh jadi kita akan ditangkap oleh satpam stasiun kereta api, sebab telah panggil-panggil namamu melalui mikrofon di ruang informasi tanpa izin. Dan itu pasti pula akan membuatmu jadi susah - cuma memperkuat alasan agar kita tidak melakukan hal tersebut saja - mungkin?
Sayang, sesungguhnya kita tak ingin menulis surat ini, sebab kita tidak tahu akan memulai dari mana... terlebih kita tidak pandai mengolah kata-kata. Andai kita ingin menuruti nasihat teman kita yang membujang sampai sekarang itu, ya... dia menganjurkan agar kita pergi ke dukun saja, "Dijamin akan membuatmu kecantol dan lengket seperti getah nangka!" O, ya... kita tahu itu bukan cara-cara yang benar. Akan tetapi, akhirnya kita pergi juga ke dukun.
"Engkau sakit, sebaiknya engkau pergi ke dokter," ucap teman kita, setelah tahu kita pergi ke dukun pijat. Habis badan kita jadi pegal-pegal, lantaran memikirkan cara buat mengungkapkan apa yang ada di hati dan benak kita, mengingat hari ini sudah hampir dzuhur, tapi belum juga melakukan sesuatu!
lembar 2
Tanpa buang waktu kita pergi ke dokter. Kesehatan merupakan sesuatu nikmat yang memang pantas disyukuri, dan memelihara kesehatan juga bagian dari ungkpan rasa syukur itu. Tambah lagi, kalau kita sakit justru tidak akan dapat melakukan sesuatupun buatmu, Sayang!
Di hadapan dokter, dengan cepat kita sampaikan keluhan-keluhan - sebenarnya semacam konsultasi psikologi - sebab kita ingin dokter dengan pasti dapat mendiagnosa atau bila perlu menginjeksi dengan obat yang sangat paten. Tapi betapa kita sangat terkejut ketika dokter mengeluarkan jarum suntik yang besarnya hampir-hampir sepergelangan lengan kita sembari berkata, "Sudah tunjukkanlah kepada saya di mana sapinya, dia sangat membutuhkan ini!"
Sayang, tanpa ba-bi-bu lagi kita langsung lari saja ke luar ruko prakter dokter itu. Kita lupa siapa nama dokter itu, lantaran kita juga masuk tanpa perhatikan plang namanya. Apa dikiranya kita sama dengan sapi yang butuh inseminasi buatan itu?
lembar 3 :
Sayang, sebenarnya kita tak ingin menulis surat ini, apalagi di sini ada sebuah kartu ucapan berwarna pink - dengan rangkaian bunga tanjung, lavender dan tulip - yang telah kita tulis :
SAYANG, KARENA ENGKAU BEGITU PENTING MAKA KITA BUTUH ENGKAU TEMPAT TAMBATKAN PERAHU KECIL KITA DI PELABUHAN NAN MEMBIRU ITU, MENYONGSONG FAJAR DAN MEMASUKI HARI BARU DENGAN BENTANGAN SAMUDERA UJIAN DI HADAPAN...
lembar 4 dan 5 :
.............................................................................................................. .............................................................................................................. ..............................................................................................................

